Skip to main content
x
Ilustrasi Inklusifitas Pekerja Lansia

Inklusifitas Pekerja Lansia

Dutawarta.com - Salah satu tujuan pembangunan ekonomi Indonesia adalah peningkatan taraf kesehatan masyarakat melalui perbaikan fasilitas kesehatan. Hal ini bersesuaian dengan pendapat ahli ekonomi pembangunan Jepang, Michael P.Todaro yang menyatakan bahwa kesehatan merupakan salah satu dari dua investasi terbaik dalam pembangunan manusia, dan merupakan tujuan mendasar dalam pengembangan atau pembangunan suatu wilayah. Dampak utama dari perbaikan taraf kesehatan masyarakat adalah peningkatan produktivitas kerja, peningkatan kompetensi Pendidikan, serta berkurangnya biaya yang harus disubsidi pemerintah untuk biaya pengobatan.

Dampak lain dari membaiknya fasilitas kesehatan adalah meningkatnya usia harapan hidup di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan peningkatan angka usia harapan hidup di Indonesia dari tahun ke tahun, hingga pada tahun 2021 usia harapan hidup di Indonesia mencapai angka 71,57 poin. Angka ini berarti bayi yang baru di lahirkan dalam keadaan normal (tidak terjadi kecelakaan ataupun kematian karena penyakit ganas) diharapkan dapat hidup hingga mencapai umur 71,5 tahun. Dengan kata lain, membaiknya taraf kesehatan masyarakat akan menyebabkan semakin banyak pula penduduk Lanjut Usia (Lansia) di Indonesia. Menurut UU No 13 Tahun 1998, Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun (enam puluh) tahun keatas.

Secara psikologis peningkatan jumlah penduduk lansia dapat meningkatkan tingkat kebahagiaan masyarakat karena peningkatan penduduk lansia berarti semakin lama seseorang dapat hidup bersama orang yang mereka sayangi (orang tua mereka). Sedangkan secara ilmu kesehatan, peningkatan jumlah penduduk lansia di Indonesia menunjukkan perbaikan taraf kesehatan di Indonesia. Namun secara ketenagakerjaan, semakin banyak jumlah penduduk lansia berarti semakin banyak banyak juga penduduk yang tidak produktif bekerja dan meningkatankan rasio ketergantungan.

Rasio ketergantungan (dependency ratio) dapat digunakan sebagai indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju atau negara yang sedang berkembang. Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi yang penting. Semakin tingginya persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Solusi yang dinilai paling efektif untuk menghadapi fenomena ini adalah menjadikan lansia sebagai Lansia produktif. Menurut Heryanah 2015, fenomena penuaan penduduk (ageing population) bisa dimanfaatkan sebagai bonus demografi kedua, keadaan ini adalah keadaan dimana ketika suatu negara mengalami peningkatan populasi lansia yang masih produktif dan dapat memberikan sumbangan bagi perekonomian. Selain itu, lansia juga memiliki pengalaman dan semangat kerja, serta nilai kesabaran yang jauh lebih baik dibandingkan dengan generasi muda yang maunya serba instan.

Faktanya lansia memang tidak hanya menjadi beban perekonomian, banyak lansia yang masih produktif bekerja bahkan menjadi kepala rumah tangga. Bengkulu merupakan salah satu provinsi dengan jumlah lansia sebagai kepala keluarga yang besar di Indonesia. Menurut data BPS Provinsi Bengkulu peningkatan penduduk lansia di Bengkulu terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2020 penduduk lansia di Bengkulu adalah 8,06 persen dari total penduduk di Bengkulu, meningkat meningkat 19,35% menjadi 9,62 persen pada tahun 2021. diantara lansia tersebut 55,83 persennya masih bekerja bahkan 57,41 persen diantaranya merupakan kepala rumah tangga. Artinya 57,41 persen lansia masih menjadi penanggung kebutuhan ekonomi terbesar di keluaganya.

Data tersebut semakin menguatkan bahwa lansia produktif merupakan solusi bahkan peluang dari fenomena penuaan penduduk. Akan tetapi, kondisi lansia produktif ini tidak dapat diterapkan pada semua lansia, karena sejatinya semakin menua seseorang maka kondisi fisik dan mentalnya akan semakin melemah. Oleh karena itu, untuk menjadi lansia produktif membutuhkan prasyarat yaitu lansianya masih dalam keadaan sehat baik sehat secara fisik maupun sehat secara mental (tidak merasa bahwa mereka sudah tidak bisa bekerja lagi).

Fasilitas yang memadai menjadi syarat berikutnya, keadaan lansia yang sudah tidak sekuat masyarakat usia produktif membutuhkan fasilitas yang lebih memadai dalam membantunya bekerja. Dan yang terakhir dibutuhkan data dan informasi yang akurat untuk membuat kebijkan yang tepat. Sebagai contoh penggunaan informasi adalah data BPS Provinsi Bengkulu 67, 31 persen dari lansia yang bekerja di Bengkulu, bekerja pada sektor pertanian oleh karena alangkah baiknya jika sector ini mendapatkan perlakuan khusus dari pemerintah. Pada akhirnya, memanfaatkan fenomena bonus demografi kedua ini dibutuhkan perencanaan dan program kebijakan di bidang kesejahteraan lanjut usia yang didukung oleh ketersediaan data dan informasi yang memadai. 

Dibaca : 0Klik

Facebook comments