Skip to main content
x
Ilustrasi Paham Manajemen Krisis

Humas Paham Manajemen Krisis

Dutawarta.com - Hampir semua organisasi, baik berbentuk perusahaan ataupun instansi yang mempunyai skala besar hingga terkecil pernah dan berpotensi besar mengalami krisis. Menurut Putra (1999), krisis merupakan kondisi dimana organisasi mengalami sebuah peristiwa besar yang tidak terduga dan berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi organisasi maupun publik. Tidak hanya itu, krisis juga dapat berpotensi merusak organisasi, karyawan, produk atau jasa yang dihasilkan organisasi, kondisi keuangan, dan reputasi dari organisasi. Krisis mengancam nilai-nilai penting organisasi dan tidak memberikan banyak waktu untuk mengambil keputusan sehingga organisasi dituntut untuk berpikir cepat, kreatif, dan dengan perencanaan yang matang. Terlebih, kemajuan teknologi media membuat publik dengan mudahnya mendapatkan informasi krisis dari seluruh penjuru dunia. Informasi maupun berita mengenai krisis, isu miring, dan berita negatif akan dengan cepat menyebar kemana-mana.

Sehubungan dengan permasalahan krisis yang dialami oleh organisasi, dibutuhkan peranan individu yang berasal dari internal organisasi yang memiliki kapasitas dalam memanajemen krisis, yakni seorang Public Relations (PR) atau Hubungan Masyarakat (Humas). Seorang humas bertanggung jawab dalam memastikan hubungan antara organisasi dengan eksternal berjalan dengan baik, maka dari itu ketika terjadi sebuah krisis pada organisasi, seorang Humas menjadi garda terdepan dalam mengembalikan citra baik organisasi ataupun perusahaan. Humas harus memahami bagaiamana merumuskan dan menjalankan strategi komunikasi krisis yang tepat dalam menghadapi suatu krisis (facing of crisis).

Krisis memang dapat datang tak terduga, pula dapat datang secara alamiah. Menurut Firsan Nova dalam bukunya “Bagaimana Public Relations (Humas) Menangani Krisis Perusahaan”, krisis dapat terjadi karena disebabkan oleh beberapa hal, yakni krisis karena bencana alam seperti gempa bumi, tsunami dan lain-lain, krisis karena kecelakaan industri, krisis karena kekurangan yang dimiliki produk atau jasa seperti produk cacat (defect), krisis karena persepsi publik, krisis karena hubungan kerja yang buruk, krisis karena kesalahan strategi bisnis, krisist terkait masalah kriminal, krisis karena pergantian manajemen, krisis karena persaingan bisnis, dan krisis keuangan. Begitu beragam penyebab sebuah krisis, mulai yang berasal dari internal organisasi maupun eksternal. Maka dari itu, seorang Humas tidak hanya dituntut harus sigap ketika krisis sudah terjadi tetapi juga perlu peka dan mampu membaca isu-isu eksternal namun tidak luput dan tetap aware dengan isu internal organisasi.

Dalam menangani dan memanajemen krisis, ada beberapa tahap yang dilalui oleh Humas yang secara garis besar dibagi menjadi 3 tahap, yakni  Pra Krisis, Krisis, dan Pasca Krisis. Salah satu organisasi pemerintah yang mengatur proses manajemen krisis melalui ketiga tahap tersebut adalah Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI). Manajemen krisis BPK sudah di atur dalam peraturan Sekretaris Jenderal Badan Pemeriksa Keuangan No. 11 Tahun 2021 tentang Prosedur Operasional Standar Manajemen Komunikasi Krisis pada Badan Pemeriksa Keuangan.

Tahap Pra Krisis yang dilakukan oleh Humas BPK yakni melakukan Monitoring Media dan Analisis Berita. Dalam memonitoring media, Humas mencoba untuk melihat dan memantau berita mana yang menimbulkan krisis. Berita-berita yang berpotensi menimbulkan krisis dapat berupa berita yang membahas mengenai keraguan atas kredibilitas organisasi baik dari segi pimpinan, karyawan, maupun organisasi itu sendiri. Selain itu, konflik internal organisasi, kesalahanan hasil pemeriksaan, ataupun hal-hal yang berkaitan dengan integritas organisasi dapat berpotensi menimbulkan krisis. Selanjutnya, berita-berita tersebut di analisis dengan memerhatikan isu apa yang dibahas, pesan seperti apa yang dimuat, media mana yang meliput, siapa narasumber yang dimuat dalam berita, dan sebagainya. Kemudian, diajukan kepada pejabat berwenang untuk disetujui sebagai krisis atau tidak.

Jika hasil analisis berita disetujui sebagai krisis, Humas lanjut ke tahap krisis. Pada tahap ini, Humas sebaiknya memberikan respon awal dengan mencari dan menyiapkan data pendukung untuk pembuatan tanggapan terhadap krisis yang biasanya akan disampaikan oleh pimpinan. Tanggapan pimpinan dapat disampaikan dalam siaran pers atau konferensi pers, maupun hak jawab kepada media yang memberitakan krisis. Kemudian dilanjutkan dengan menjalankan strategi komunikasi yakni dengan menyebarluaskan semua tanggapan yang sudah disampaikan, baik melalui wartawan dari media, memberikan hak jawab kepada media yang meliput, maupun disiarkan pada website organisasi bersangkutan. Tanggan ataupun respon yang diberikan haruslah diberikan secepatnya namun dikemas dengan matang dan penuh persiapan serta didukung dengan penggunaan bahasa yang lugas dan tidak terkesan ambigu.

Informasi yang disampaikan juga haruslah konsisten, artinya tanggapan. Atau respon yang disampaikan kepada media satu harus sama dengan media lain. Di sini, taktik media relations diterapkan, bagaimana Humas harus dapat bekerjasama baik dengan media massa dalam menyebarluaskann informasi terkait respon terhadap krisis. Apabila strategi komunikasi pada tahap krisis memberikan respon yang baik, maka krisis berhasil diselesaikan dan Humas berada pada tahap Pra Krisis. Namun, apabila frekuensinya menurun, maka Humas harus kembali membuat action  plan  dan merencang strategi komunikasi baru hingga kredibilitas dan citra organisasi pulih.

Seberat dan separah apapun krisis yang terjadi pada organisasi atau perusahaan, Humas tidak diperkenankan menyerah begitu saja, seperti kasus OTT misalnya, yang tidak jarang dialami oleh berbagai instansi di Indonesia. Walau kasus OTT sekalian, Humas tidak dapat berserah dan membiarkan krisis ini selesai begitu saja. Humas perlu untuk memaksimalkan media relationsnya, seperti mengontrol agar kasus tidak terus menerus diangakat atau diblow-up dan mencari cara agar berita tersebut terkesan tidak terlalu penting. Humas memang tidak dapat mengendalikan kondisi dan pihak media sepenuhnya, tetapi Humas dapat memanfaatkan media relationsnya untuk meminimalisir berkembangnya isu atau krisis yang dialami. Karena, sangat minim kemungkinan agar citra organisasi dapat kembali pulih dengan sendirinya, kolaborasi dan relasi antara humas dengan media yang baik menjadi kunci penting dalam penanganan krisis.

Dibaca : 0Klik

Facebook comments