Skip to main content
x
Ikrimah Afifah Trivanni, S.Stat

Ekonomi Bengkulu dalam Jeratan Pandemi

Dutawarta.com -Bagaimana kondisi ekonomi Indonesia saat ini? Bagaimana dengan kondisi Provinsi Bengkulu?? Apakah bisa keluar dari kondisi kesulitan ekonomi?

Secara triwulanan, sampai dengan akhir kuartal pertama 2021 pertumbuhan ekonomi Indonesia memang selalu minus. Namun, kondisi ini terjadi dengan tingkat keparahan yang terus berkurang. Perekonomian Indonesia pada triwulan III/2021 mengalami pertumbuhan yang positif. BPS merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III/2021 sebesar 3,51 persen, meskipun tumbuh positif namun kondisi ini lebih rendah jika dibandingkan dengan kondisi di triwulanl II/2021 yang mencapai 7,07 persen. Kondisi ini tentu atas dasar adanya kontribusi dari daerah-daerah di Indonesia, termasuk Provinsi Bengkulu. 

 

Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu mengalami kontraksi sejak triwulan II/2020 hingga triwulan I/2021 dimana kontraksi yang cukup dalam terjadi di triwulan IV/2020 yaitu sebesar minus 2,39 persen. Perbaikan ekonomi Provinsi Bengkulu saat ini didasari oleh meningkatnya kinerja beberapa komponen permintaan dan lapangan usaha (LU). Lapangan usaha yang belum mengalami kinerja positif yaitu sektor pengadaan air, real estate, dan jasa perusahaan.Ekonomi Provinsi Bengkulu triwulan III/2021 mengalami pertumbuhan sebesar 2,47 persen dibandingkan dengan triwulan II/2020 (y-on-y).

Namun, kondisi perekonomian Provinsi Bengkulu ini belum cukup untuk memberikan keyakinan bahwa kondisi ekonomi sudah stabil. Hal ini bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi secara triwulanan (q-to-q). Ekonomi Provinsi Bengkulu triwulan III/2021 jika dibandingkan dengan kondisi triwulan II/2021 mengalami penurunan atau kontraksi sebesar 2,08 persen. Tiga lapangan usaha yang mengalami kontraksi tertinggi adalah Transportasi dan Pergudangan sebesar minus 12,41 persen, Administrasi Pemerintahan sebesar minus 6,75 persen, dan Jasa Lainnya sebesar minus 5,24 persen. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat di triwulan III/2021, bahkan ekonomi Provinsi Bengkulu mengalami kontraksi, tak lain disebabkan oleh beberapa kondisi yang mengalami efek dari Pandemi COVID-19.

Kasus Covid-19 yang meledak dengan varian baru di periode Juli sampai pertengahan Oktober mengakibatkan perlu adanya peningkatan kebijakan untuk kasus tersebut. Peningkatan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk meminimalkan penyebaran Covid-19 di triwulan III/2021 mampu menurunkan aktivitas masyarakat secara signifikan dari periode sebelumnya. Hal ini berdampak besar pada sektor transportasi, pariwasata, dan konsumsi rumah tangga.

Jika dilihat berdasarkan sektor pengeluaran, penurunan ekonomi Provinsi Bengkulu didominasi oleh penurunan konsumsi rumah tangga. Pendapatan masyarakat yang terganggu akibat bombardir kasus Covid-19 di triwulan III/2021 menjadi alasan menurunnya pengeluaran konsumsi rumah tangga. Sektor-sektor lapangan usaha yang terganggu mengakibatkan pelaku usaha mengalami banyak kesulitan. Kesulitan ini membuat banyak masyarakat merangkak untuk menstabilkan kondisi pendapatan rumah tangga. Konsumsi rumah tangga yang menurun di triwulan III/2021 sebesar 4,40 persen menjadi cerminan kondisi masyarakat Bengkulu belum kembali pulih.

Namun demikian, kebijakan pemerintah atas pemberlakuan PPKM Darurat di triwulan III/2021 dirasa cukup efektif karena mampu mempertahankan kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif walaupun melambat. Salah satu pendongkrak yaitu sektor ekspor barang dan jasa. Harga komoditas di pasar global yang mengalami kenaikan memberikan efek pada meningkatnya nilai ekspor ini. Peningkatan harga pasar global antara lain minyak kelapa sawit, cokelat, kopi, timah, nikel, dan alumunium. Beberapa kondisi tersebut juga dirasakan oleh Provinsi Bengkulu dimana komponen ekspor barang dan jasa Provinsi Bengkulu tumbuh sebesar 4,85 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan yang positif ini diharapkan tetap bertahan walaupun merangkak pelan.

Gelombang naik turun perekonomian di tengah pandemi ini sangat menjerat. Bayangkan ketika mobilitas warga mulai dilonggarkan dengan adanya bukti vaksinasi dan PCR bisa memungkinkan jumlah warga yang terinfeksi Covid-19 kembali melonjak. Namun, ketika Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level tinggi diperpanjang oleh pemerintah, maka ada kemungkinan pertumbuhan ekonomi tertekan kembali. 

Penanganan pandemi tentu menjadi prioritas di negeri ini. Oleh karena itu, perlu dipikirkan solusi agar perekonomian tetap meningkat dan tumbuh sementara penanganan Covid-19 tidak terganggu, khususnya di Provinsi Bengkulu. Pemerintah Provinsi Bengkulu harus mampu meningkatkan kesadaran dan disiplin masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan. Kepatuhan masyarakat di Provinsi Bengkulu dalam hal menerapkan protokol kesehatan diharapkan mampu memulihkansecara penuh ekonomi Provinsi Bengkulu. Kebijakan di tengah pandemi Covid-19 yang dinilai cukup efektif bisa dipertahankan dengan memperhatikan faktor lain, misal efek pasar internasional maupun kondisi iklim.

 

Dibaca : 3Klik

Facebook comments